Senin, 12 Februari 2018

#NHW3: MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

Assalamu'alaikum wr.wb

Alhamdulillah, tepat 7.30 pagi ini saya bisa duduk dan ngerjain tugas #NHW3 di #MIIPB5 #Semarang. Deadline-nya? Pukul 10.00 nanti (tepok jidat).

Pilihan yang sama sekali nggak boleh ditiru, melakukan sesuatu di ujung deadline, kan?
Tapi saya "terpaksa" melakukannya, karena baru sempat "pacaran" kemarin sore. Pejuang LDM musti bisa atur strategi buat pacaran tanpa diganggu bocah, hihi... (alesan!!)

Di samping itu juga sejak Selasa lalu, saya agak drop (alesan lagi!!)
Beneran deh, di depan laptop cuma sanggup 15 menit. Setelahnya harus meringkuk dulu atau melakukan aktifitas lain, nanti baru kembali ke laptop lagi. Begitu terus sampai beberapa deadline lain serasa menghantui saya. #Materi3 pun lebih banyak saya ikuti sambil berselimut, hiks...

Tapi, yes!
Saya dapat poinnya dong.

Materi ini kok pas banget, kebetulan saya saat ini sedang konsen dengan #AdabDariRumah. Beberapa postingan saya di sosial media sedang getol menuliskan hal tersebut. Awalnya sih karena kasus pemukulan guru oleh siswa yang membuat gurunya wafat. Sedih banget saya. Karena kalau sudah kejadian begitu, yang dipertanyakan pertama kali adalah, "Diajarin apa sih, di rumah? Sampai bunuh gurunya?".

Maka saya merasa perlu mengembalikan (terutama) anak-anak saya ke dalam rumah yang beradab. Saat anak-anak sudah beradab dari rumah, insya Allah di tempat lain mereka lebih mudah menyesuaikan. Eh, pas banget, materinya tentang "Membangun Adab Dari Dalam Rumah", nih.

Well, lalu PR-nya mana? Malah curhat deh, hihi...


PR-nya heboh banget, salah satunya membuat surat cinta untuk suami.

WHAT?!

Bikin surat yang romantis buat suami sih hal biasa (uhuk!).
Bahkan beberapa tulisan tangan saya yang isinya "menye-menye" masih disimpan oleh beliau. Sampai harus nutupin muka kalau pas bongkar kenangan. Kok bisa ya, saya nulis picisan begitu. Sayangnya, sekarang saya sudah nggak pernah bikin surat "baper" lagi. Selain karena saya mendukung program paperless (uhuk lagi), juga karena teknologi sekarang sangat membantu untuk sayang-sayangan nggak pakai kertas.

Apalagi kami LDM, paling pas kalo pacaran sambil video call. Dan yes, saya melipir video call berdua saja dengan beliau, kemarin sore.

Kenapa harus melipir? Karena mau kasih kejutan ke suami. Selain itu, kalau anak-anak tahu saya sedang dengan abinya, pasti layar ponsel saya penuh dengan wajah mereka, bukan wajah emak-bapak yang sedang menahan rindu (oops!).

Alhamdulillah, kejutannya berhasiiilll (yeaaayyy...)
Suami seneng sih, sampai muji-muji saya (muka merah muda). Katanya, "Sering-sering dong bikin kejutan begini. Makin sayaaang ...."

Uuuhh ... kalau suami ada di sini pasti langsung peluk cium sampe penyet, hahaha :D 

Udah ah, maluuu ....
Dari sini saya diingatkan untuk terus membangun cinta, bukan sekadar mempertahankannya. Sesekali bikin suprise yang "norak" tapi eh, suami suka. Doakan kami sakinah selalu yaaa (kiss).

Tugas 1 done, ngetiknya bikin deg-degan (fyuhhh).
Sekarang lanjut dong ke tugas berikutnya, yaitu menggali potensi anak-anak. Walaupun setiap hari saya bareng sama anak-anak, lumayan nguras pikiran juga nih, bagaimana mengenali potensi mereka.

#kaRafa, anak pertama saya, dua minggu lagi genap 11 tahun
Kalau ditanya cita-cita, selalu jawab: TENTARA. Hati emaknya kebat-kebit. Menjadi prajurit tentu merupakan pengabdian jiwa dan raga. Tapi ah, masih panjang perjalanannya. Kalau Allah izinkan ia jadi seorang prajurit, tentu karena Allah telah memberi yang terbaik, kan?

Nah, yang saya perhatikan dari kakak, dia tekun banget kalau sudah menyimak sesuatu yang berhubungan dengan teknologi kekinian. Kebetulan televisi di rumah ada program "rekamannya". Jadi, acara yang terlewat masih bisa dilihat tanyangannya sampai 24 jam berikutnya. Kalau saya perhatikan sih, pulang sekolah dengan jatah nonton tivi 2 jam, kakak selalu anteng menyimak tayangan semacam itu dan fasih sekali menceritakan kembali. Misalnya tentang mobil masa depan yang sedang dirancang oleh Jerman, atau kloning manusia robot di Jepang. Saya? Menyimak sambil terkagum-kagum.

Di samping itu, dia suka aktifitas "membangun dan membentuk". Kami memfasilitasinya dengan mengikutkan dia di kelas Robotics. Beberapa challenge yang kebetulan saya beri di rumah, walaupun dengan tertatih, tapi berhasil diselesaikannya. Kelas Robotics-nya juga tinggal 4 project lagi untuk bisa naik ke level programming. Progress-nya oke lah menurut saya (iyalah, emaknya gitu loh!)

Terakhir, belakangan ini lagi suka musik, Mulai ingin belajar alat musik, tapi dia masih bingung mau pilih yang mana. Kita lihat nanti deh ☺

Lalu #deTazya, si anak bontot yang 5 April nanti usianya 6 tahun.
Cita-citanya mau jadi "alsitek". Wuiihh ... Bisa aja dia, emang tahu arsitek apa?

"Tau!" jawabnya. "Yang gambal-gambalin lumah. Kalena aku suka gambal, jadi aku mau gambalin lumah Mama."

Dan iya, di "her corner", sebuah pojokan rumah tempat menyimpan segala macam barang dan urusan dia, akan kita jumpai buanyak kertas yang bergambar "objek tidak jelas". Objek-objek itu akan menjadi nyata kalau sudah dijelaskan olehnya, hihi .... 

Saya sih membayangkan persis hasil gambar para arsitek. Baru bisa dipahami kalau sudah dijelaskan. Walaupun gambar adik masih "suka-suka gue", tapi dia selalu menampilkan gambar "bangunan". Entah rumah, lansekap, hotel, atau bangunan-bagunan lain.

Adik juga sangat suka "meniru" gaya orang lain, bukan hanya yang dilihat di  televisi, tetapi orang di sekitarnya juga sering ditiru. Seperti bunda di sekolah, teman-teman, atau saudara. Terutama tokoh-tokoh di televisi, baik tokoh dalam film favoritnya maupun tokoh lain yang sering dia lihat. Beberapa videonya ada di sosial media saya, saat dia meniru gaya presenter kuliner Vivit Kafi atau mendiang Pak Bondan Winarno. Kalau sekarang sih lagi suka meniru dialog Tayo dan teman-temannya.

Apa pun itu, saya saat ini masih fokus di kemampuan basic-nya dulu. Adik belum mau membaca, hihi ....
Sesuai umurnya, saya memang belum memaksanya untuk bisa membaca. Tapi saya harus terus membiasakan adik berada dalam budaya membaca. Kalau dia belum mau baca, saya yang bacakan. Karena sejatinya, bekal pertama dalam mengoptimalkan semua potensi itu adalah dengan membaca.

Uhm ....
Demen kan saya kalau disuruh nulis. Udah panjang aja, padahal masih panjang juga PR-nya.

Then, selanjutnya adalah ... menuliskan potensi saya.
Berat ini, lebih mudah bikin surat cinta wkwkwk ....

Bukan karena apa-apa sih, saya khawatir jadi jemawa kalau ditanya kelebihan saya. Karena sesungguhnya satu-satunya kelebihan yang menonjol di diri saya adalah kemampuan menggeser jarum timbangan ke arah kanan (plak!)

Kembali ke pilihan fokus belajar saya di universitas kehidupan deh, saya bisa nulis.
Walaupun masih harus banyak belajar untuk meningkatkan kualitas tulisan saya, yes, saya suka dan bisa menulis. Pengiiinnn banget punya sekolah literasi untuk anak-anak di lingkungan saya tinggal. Sekolah menulis yang fun, sehingga semua anak menikmati prosesnya dan mereka bersuara lewat tulisan secara beradab.

Saya pribadi sangat menikmati bahasa tulisan. Banyak hal-hal baik yang saya berikan dan juga dapatkan dari kalimat-kalimat dalam tulisan. Tentu tulisan yang penuh adab dan mengandung makna, bukan umpatan apalagi protes kemarahan tanpa arah tujuan. Suatu saat, dengan kemampuan saya ini, saya ingin bisa bermanfaat bagi lingkungan saya dengan tulisan. Gemas juga sih rasanya kalau melihat "ada yag perlu dibenerin" di sekitar saya, tapi saya belum berani mengungkapkannya. Maka selama ini saya paling akan menuliskannya di blog atau sosial media. Sekadar mengalirkan rasa agar tidak menjadi beban di hati. Semoga ke depannya saya makin "PeDe" dan bisa memberi kontribusi nyata bagi lingkungan saya.

Udah yaaaa ....
Pas satu jam menuju deadline, tugas saya selesai.
Semoga menjadi perbaikan buat saya ke depannya. Semakin semangat membangun peradaban dari dalam rumah. Salam Profesional!


Sabtu, 03 Februari 2018

#NHW2: Menjadi Ibu Profesional

Assalamu'alaikum wr.wb

Yeaaayy ... Alhamdulillah, saya masuk dan lewati minggu kedua dengan (masih) tertatih. Sangat terasa perjuangannya (jiaaahh berjuang) untuk menangkap, menyerap, lalu mengaplikasikan ilmu di #MIIPB5 ini. Minggu ini sudah masuk #Materi2 yaitu Menjadi Ibu Profesional.

Dari materi kedua yang disampaikan tempo hari, satu hal yang berulang kali saya baca dan berhasil membuat saya ngembeng (baca: nyaris mewek) adalah bagian INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL. Materi utuh yang ada di sini menyebutkan bahwa, ibu profesional yang berhasil adalah yang "menjadi KEBANGGAAN KELUARGA". Karena anak-anak dan suami kita yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri terbaik di mata mereka.
(Tuh kaaann mau mewek lagi).

Cermin. Ya, saya butuh cermin setelah mambaca kalimat tersebut. Sudahkan saya menjadi yang terbaik di mata mereka? Hal-hal apa yang harus saya benahi supaya bisa menjadi ibu profesional yang sesunguhnya? Bisakah saya? Sanggup?

Karenanya, di #NHW2 kali ini, saya -- bukan cuma saya sih sebenernya -- diminta untuk membuat CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN.

WHAT?! Apalagi ini? (ketawa bloon)

Well, udah dikasih sedikit bocoran kok sama fasilitator Semarang yang keceee...
Jadi, saya musti bikin indikator buat diri saya sendiri supaya bisa disebut sebagai IBU PROFESIONAL. 

Sedangkan kunci untuk membuat indikatornya, disingkat menjadi SMART, yaitu:
SPECIFIC (unik/detil)
MEASURABLE (terukur, contohnya: dalam sebulan berapa kali saya melakukannya)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah atau mudah)
REALISTIC (berhubungan dengan kondisi sehari-hari)
TIMEBOND (ada batas waktunya)

Dan saya nggak mau muluk-muluk dulu deh, takut nggak bisa confirm targetnya lalu melipir di tengah jalan. Maluuu (nutupin muka).

Saya bikin dulu targetnya selama 90 hari, sekadar untuk membiasakan diri. Katanya kan untuk membentuk kebiasaan harus dilakukan terus menerus minimal tiga bulan. Kalau sukses, insya Allah lanjut ke target berikutnya. Doakan saya istiqomah ya!

Here they are, CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN, punya saya ☺

1. Sebagai Individu

Sebagai ibu yang baik (uhuk), keputusan berhenti ngantor semata-mata saya ambil karena ingin memiliki waktu lebih banyak bersama anak-anak dan suami. Walaupun pada kenyataannya (terpaksa) hidup berjauhan dengan suami, tapi setidaknya saat prime time bercengkerama dengan anak dan suami bisa lebih optimal. Saat video call performa saya jauh lebih bagus, dibanding saat masih kerja dulu. Pulang kerja, lelah, anak-anak mulai ngantuk, tapi Abinya baru bisa dihubungi. Hasilnya, komunikasi yang dibangun jadi nggak terlalu efektif, kan.

Berikutnya, selama ini saya merasa bahwa interaksi saya dengan Yang Maha Kuasa hanya sebatas kewajiban saja. Sedih ya ... Bagaimana saya bisa memberi contoh kepada anak-anak supaya taat kepada Allah SWT kalau jiwa saya kosong, ibadah saya hanya untuk memenuhi kewajiban saja. Insya Allah, saya akan perbaiki kualitas habluminallah. Alhamdulillah sudah mulai saya rasakan bedanya setelah berhenti ngantor, doakan makin baik lagi ya ... Ditambah lagi sejak Oktober tahun lalu saya mulai belajar memperbaiki bacaan Alquran. Targetnya, dua bulan lagi naik ke kelas Tahsin. Aamiin.

Hal terakhir di 90 hari saya ini adalah, meningkatkan jumlah bacaan saya. Dengan harapan, semakin banyak yang saya baca, kualitas diri saya juga akan meningkat. Sekaligus sebagai bekal saya menulis dengan lebih baik. Cita-cita menjadi penulis bermartabat mustahil terwujud kalau saya malas baca.

2. Sebagai Istri

Bagian ini membuat saya maju mundur mau tanya ke suami. Biarpun sudah dua belas tahun kami menikah, tapi hampir separuh perjalana pernikahan kami dijalani dengan berjauhan begini. Intensitas pertemuan yang sangat jarang, mebuat saya lebih suka membicarakan hal-hal yang krusial saja dengan suami. Hal lain yang saya anggap bisa diselesaikan sendiri, saya usahakan tidak terlalu membebani suami. Kasihan, udah jauh, istrinya bawel pula. Dikit-dikt nanya, hehe...

Tapi pertanyaan kedua ini harus saya tanyakan, kan?
Maka bertanyalah saya, beberapa saat lalu saat (kebetulan) mood saya sedang buruk karena dilanda PMS. Yaaa ... pura-puranya mau curhat karena suasana hati lagi jelek, hihihi ....

Lalu dengan sedikit "melipir" saya tanyakan, istri ideal menurut beliau seperti apa?
Jawabannya sangat simpel, "Maunya kamu manut sama suami."
Saya protes dong, "Emangnya selama ini nggak manut?" Tuh kan, belum apa-apa udah galak, kan sayanya. Nanya, dijawab, eh protes! (dijitak).

Berhubung beliau baik hati, jawabnya gini, "Alhamdulillah, sejak kamu di rumah udah makin sabar, nggak banyak ngomel, banyak nurutnya, walaupun kadang-kadang masih galak."

Oke, NOTED Beib. Jadi saya masih galaaakk ... oooo gituuu (sambil ngulek sambel).

3. Sebagai Ibu

Bagian ini akhirnya saya tanyakan ke anak-anak dengan hasil yang sama sekali tidak saya harapkan. Artinya, malah bikin saya bingung menentuka indikator keberhasilan saya sebagai ibu profesional.

#kaRafa, anak pertama saya, yang 1 Maret nanti genap 11 tahun.
"Maunya Mama nggak maksa aku makan di rumah. Makan itu sesuai kebutuhan yang mau makan. Tenang aja, kalau Mama repot aku udah bisa masak sendiri." -- jawaban khas anak menuju remaja, penuh "perlawanan".

Ya, Si Kakak memang picky eater so hard. Sampai sekarang memang ini PR terbesar saya untk dia. Dari sini, saya bikin indikator apa dong? Hemm...

Sekarang #deTazya, si anak bontot yang insya Allah tahun ini masuk SD, tepat 5 April nanti usianya 6 tahun.
"Mama kelja lagi, bial aku pulang sekolahnya bisa naik antal jemput, kasih kunci lumah aja, aku belani kok" -- btw, Si Adek masih belum jelas pengucapan "r"-nya.

Asli, saya tarik napas dalaaamm mendengar jawabannya. Apa yang sangat dihindari kakaknya, ternyata menjadi keinginan adiknya. Kakak sering bilang kalau adik jauh lebih beruntung dibanding dirinya, karena tak perlu merasakan jadi anak daycare yang kalau libur sekolah ikut mamanya kerja. Sedangkan adiknya, karena sedari kecil full dalam asuhan saya, merasa kalau pengalaman kakaknya adalah petualangan sangat menarik yang wajib dia coba.

Baiklah, intinya PR saya adalah berusaha menjadi ibu yang lebih baik lagi, terus belajar dan bertumbuh bersama mereka. Menciptakan suasana bahagia tidak selalu dengan menuruti keinginan mereka, tetapi menyelaraskan satu sama lain dengan komunikasi yang baik. Insya Allah.

***
Done, tugas #NHW2. Semoga menjadikan saya mau terus belajar dan belajar, demi menjadi ibu profesional di mata suami dan anak-anak. Bismillah konsisten 90 harinya, semakin baik ke depannya.


#Materi2: Menjadi Ibu Profesional

Alhamdulillah, masuk minggu kedua #MIIPB5 alias Matrikulasi Institut Ibu Profesionak Batch 5, yeaaayyy....

Saya simpan dulu materinya di sini ah, biar saya makin pandai menjdai ibu yang profesional *uhuk*

***

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #5? Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna;
1. perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2. sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3. panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4. bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari;
5. yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1. bersangkutan dengan profesi;
2. memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --;
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.


VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.


BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena  anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015